Gubeng Kertajaya 9 Raya No. 40-A Surabaya | delivery : 08563474674 | IG : @warungimood | FB : Warung Imood

Dilarang makan wajan dan cobek

 photo banner_rnm_468x60_zpscf717e28.gif

PENGUMUMAN : DILARANG MAKAN WAJAN DAN COBEK

Pembahasan seputar larangan (pantangan) makanan terkait dengan penyakit (sakit) tertentu telah kita diskusikan 2 tahun yang lalu pada artikel Pantangan Makanan. Adapun pembatasan makanan tertentu dan anjuran makanan bergizi seimbang telah tercantumkan pula pada setiap artikel yang membahas penyakit sesuai spesifikasinya.

Kali ini, kita membahas respon positif para penderita berkenaan dengan larangan makan makanan secara membabi buta sehingga menjadikan tanda tanya bagi penderita dan bahkan adakalanya menjadi bahan guyonan, seperti judul posting di atas ..

Artinya apa ? Artinya, sebagian masyarakat sudah cukup pintar dan cerdas untuk tidak menelan mantah-mentah larangan makan makanan tertentu dari dokter ataupun petugas kesehatan lainnya manakala dianggap tidak sesuai dengan penyakit atau keluhan mereka.

Berikut adalah contoh 3 ungkapan penderita yang layak kita jadikan pelajaran untuk memperbaiki informasi kesehatan bagi masyarakat luas.

Seorang pria usia tiga puluhan bertutur :” Pasca perayaan Agustusan saya berobat lantaran berasa pegal, linu-linu, badan serasa remuk. Eh, sama dokter disuruh periksa lab, darah lengkap, urine, asam urat, kolesterol, kadar gula dan lain-lain. Itupun masih diwanti-wanti gak boleh makan kacang, gak boleh makan gorengan dan entah apa lagi, saya tidak begitu ingat soalnya saat itu menahan tawa … “. Setelah berhenti sejenak, pria tersebut melanjutkan : “ di perjalanan pulang saya tertawa beneran sambil meremas pengantar lab dan membuangnya. Malamnya pindah berobat. Gak sampai 50 ribu, tiga hari kemudian udah seger “. Sembari tersenyum lebar, ia berujar : “ saya masih pingin tertawa manakala teringat gak boleh makan gorengan. Sapa yang mau makan wajan … “.

Kejadian serupa saya jumpai ketika mudik Lebaran. Di saat ada sepupu yang menceritakan larangan makan gorengan, salah seorang kerabat yang suka ndagel menimpali: “ bener itu, gak boleh makan gorengan artinya gak boleh makan wajan … atos … hahaha “. Cerdas !!!

Gadis kecil, usia sekitar 6 tahun, menderita koreng (pyodermi) di kedua kaki dan betisnya. Si ibu yang mengantarnya ke dokter berkisah: “ Anak saya dibilang alergi, gak dibolehkan makan ayam, ikan, telor. Hanya dibolehkan makan tahu tempe dan daging sapi. Sudah seminggu lebih diobati salep dan hanya makan pake tahu tempe, malah tambah parah. Aneh, anak segini hanya disuruh makan dengan lauk tahu tempe, lha gizinya gimana ? Setiap kali makan dia menangis karena gak diberi lauk telor dan ayam kesukaannya “. Pinter !!!

Setelah tahu bahwa penyakit tersebut tidak ada hubungannya dengan makanan dan tidak ada pantangan makanan apapun, tersenyumlah si ibu dan si gadis kecilpun bersorak kegirangan.

Pakde Wd, berusia 65 tahun lebih, menderita Asma sudah sejak belasan tahun yang lalu. Beliau menceritakan pengalamannya yang menurut beliau cukup menggelikan. Suatu hari di tengah malam pria kurus ini mengalami serangan asma dan kebetulan kehabisan persediaan obat asma. Maka berobatlah beliau ke suatu tempat, diantar oleh kerabatnya. Pakde Wd sangat paham bahwa setiap serangan asma (status asmatikus) datang mendera, tensinya akan naik menjadi sekitar 160/90, dan akan normal kembali ketika serangan asma mereda. Malam itupun tensinya naik saat diperiksa oleh dokter.

Apa sih yang menurut Pakde Wd menggelikan ? Ternyata Pakde Wd gak boleh makan daging dan bla…bla…bla, gara-gara saat serangan asma tensi darahnya naik. Kata beliau : “ Gak perlu dilarang, lha wong saya hanya berkesempatan makan daging setahun 2 kali saat Idul Fitri dan Idul Adha. Itupun sudah tidak kuat nyokot “. Owaaalah Pak De … njenengan ndesit tapi pinter.

Banyak cerita soal larangan makan makanan dan minuman yang tidak bijak dijadikan bahan guyonan oleh warga masyarakat di arena kongkow-kongkow, di kantor, di mall, di pasar, di warung makan di kedai kopi dan tempat lain dimana orang berkumpul. Sikap tersebut setidaknya merupakan salah satu corong dalam meng-counter salah kaprah informasi kesehatan terkait larangan makan yang acap kali menjadikan pasien ketakutan.

Mungkin ada diantara sejawat dokter yang besikap eksplosif mendengar contoh penuturan para pasien di atas. Itu sangat wajar. Namun belajar mengakui kekeliruan kemudian memperbaikinya akan lebih berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi khalayak.

Betapapun, belajar dari masyarakat dan pasien merupakan bagian dari pendidikan kedokteran berkelanjutan yang tidak mudah didapatkan di bangku kuliah. Pelajaran berharga semacam itu hanya dapat dipetik jika kita mampu membuka pintu hati, mengalahkan ego, dan menjalin komunikasi dokter-pasien secara berkelanjutan, bukan hanya terbatas di ruang praktek ataupun di ruang pemeriksaan semata, tapi juga di ranah komunitas.

Semoga bermanfaat.

Silahkan berbagi.

sumber : http://cakmoki86.wordpress.com/2009/10/11/dilarang-makan-wajan/

Glitter Photos

Photobucket



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

isi dengan benar *